Penulis:
Ust. Fahmi Hadi Shalehuddin
27 Maret, 2025
Rahmat dan ilmu milik Allah itu tanpa batas dan meliputi
seluruh ciptaan-Nya, baik yang nampak ataupun yang ghaib di seluruh jagat raya ini, tidak ada satu
pun yang luput dari rahmat dan ilmu (diketahui dan dikuasai) Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman:
ۖ رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٍ رَّحۡمَةً وَعِلۡمًا فَٱغۡفِرۡ لِلَّذِينَ تَابُواْ وَٱتَّبَعُواْ سَبِيلَكَ وَقِهِمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ
(Malaikat-malaikat) berkata,"Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu
maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah
mereka dari azab neraka." Q.S. Ghafir (40) : Ayat 7 Pada 'كُلَّ
شَيۡءٍ' (segala sesuatu) itu
terdapat rahmat Allah ﷻ dan diketahui oleh Allah. Kata 'كُلَّ
شَيۡءٍ' itu mencakup seluruh
ciptaan-Nya. Ciptaan Allah ﷻ sangat banyak jumlahnya juga macamnya, dari yang terkekcil hingga yang
terbesar, dari yang nampak hingga yang ghaib, dan lain-lain. Berarti wujud rahmat Allah itu beragam
juga sesuai dengan, waktu, tempat, kondisi, makhluk, dan perkaranya masing-masing. Hadis berikut
menyebutkan bahwa hujan itu rahmat.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مَطَرٌ فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنْ الْمَطَرِ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى.
Dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata,"Kami diguyur hujan ketika bersama Rasulullah ﷺ, beliau
membuka pakaiannya sehingga terkena hujan, lalu kami bertanya,'Wahai Rasulullah, kenapa tuan
melakukan hal itu?' beliau menjawab,'Karena hujan ini merupakan rahmat yang diberikan oleh Allah
ta'aala.'" H.R. Muslim, no. 1494
Burung bisa terbang, ikan hidup di air, matahari, bulan, dan bumi
yang berjalan pada lintasannya masing-masing, semuanya karena rahmat Allah. Secara garis besar
rahmat Allah itu di sabdakan Rasulullah ﷺ sebagai berikut.
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ.
Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata,"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,'Allah ﷻ menetapkan
rahmat (kasih sayang) menjadi seratus bagian, kemudian Ia pegang disisi-Nya sembilan puluh sembilan
bagian dan diturunkan-Nya satu bagian ke bumi. Dari yang satu bagian inilah seluruh makhluk memiliki
rasa kasih sayang, sehingga seekor kuda mengangkat satu kakinya karena takut anaknya akan terinjak
olehnya." H.R. Albukhari, no. 5541
Untuk bisa masuk surga siapapun wajib beramal saleh, tak terkecuali Rasulullah ﷺ. Hal itu
ditunjukkan oleh ayat berikut. Allah ﷻ berfirman:
وَتِلۡكَ ٱلۡجَنَّةُ ٱلَّتِيٓ أُورِثۡتُمُوهَا بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ
"Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena semua yang telah kamu amalkan."
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 72)
Allah akan memberikan surga atau memasukkan hambanya ke dalam surga itu karena amal saleh yang
dilakukan oleh mereka. Namun di dalam sebuah hadis Rasulullah ﷺ menyabdakan sesuatu yang tampak
bertentangan dengan ayat di atas.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ. قِيلَ: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ. وَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata,"Rasulullah ﷺ bersabda,"Bukanlah amalnya yang memasukkan seseorang ke dalam surga.' Kemudian ditanyakan,'Tidak juga tuan wahai Rasulullah?' Beliau menjawab,'Tidak juga aku. Hanya saja Allah melimpahkan kepadaku rahmat dan karunia-Nya' lalu berliau meletakkan tangannya ke atas kepala. H.R. Ahmad, no 10205
Nabi Muhammad ﷺ menjadi utusan Allah ﷻ selama dua puluh tiga tahun. Selama itulah beliau beramal saleh. Seluruh amal saleh seumur hidup beliau itu adalah amal saleh terbaik dibandingkan dengan amal siapapun, dan menjadi contoh bagi umatnya. Pantaslah kalau balasan yang Allah ﷻ berikan pun balasan terbaik. Kebaikan-kebaikan beliau sebelum menjadi nabi pun oleh Allah ﷻ diberi ganjaran. Rasulullah ﷺ itu pasti masuk surga dan mendapatkan surga terbaik. Berdasarkan hadis di atas, beliau sendiri yang menyatakan bahwa yang memasukkan sesorang ke dalam surga itu bukanlah amalnya, tapi karena rahmat Allah ﷻ, dan itu juga berlaku bagi beliau. Tidakkah sabda beliau ini bertentangan dengan ayat di atas? Di dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٍ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأۡكُلُونَ كَمَا تَأۡكُلُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثۡوًى لَّهُمۡ
"Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia), mereka makan seperti hewan makan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka." Q.S. Muhammad (47) : Ayat 12
Tidak, sama sekali tidak, meskipun sekilas tampaknya bertentangan. Mustahil Rasulullah ﷺ menyabdakan
sesuatu yang bertentangan dan berseberangan dengan firman Allah ﷻ. Jika beliau menyabdakan sesuatu
yang bertentangan dengan firman Allah, itu berarti beliau menentang Allah. Justru sebaliknya, sabda,
amal, taqrir (persetujuan beliau terhadap ucapan dan amal sahabat) Rasulullah ﷺ adalah tafsir dan
implementasi dari Alquran. Jika demikian, apa maksud sabda Rasulullah ﷺ di atas?
Makna bahwa 'bukan amalnya yang memasukkan seseorang ke surga' termasuk beliau sendiri adalah surga
itu terlalu tinggi, mahal,besar, dan terlalu segalanya, surga itu tak ternilai. Surga itu tidak akan
bisa diraih oleh (balasan) amal manusia termasuk amal seorang nabi sekalipun. jika diasumsikan kalau
pahala yang diraih dengan beramal saleh itu ditukarkan dengan tiket masuk surga, pasti jauh dari
cukup, amal Rasulullah ﷺ pun tidak cukup. surga itu teramat dan terlalu tinggi sementara amal
manusia teramat dan terlalu rendah. Jadi, sejatinya jika benar-benar hanya mengandalkan amal saleh
sendiri, tidak ada satu pun manusia yang bisa dan layak masuk surga! Benarlah sabda Nabi ﷺ bahwa
yang memasukkan seseorang ke surga itu adalah rahmat Allah ﷻ.
Bukankah rahmat Allah ﷻ itu beragam? Seperti apa wujudnya rahmat yang memasukkan seseorang ke dalam
surga itu? Dalam hal ini rahmat yang dimaksud itu ada dua macam wujudnya. Rahmat
Pertama berupa
jariyah pahala. Rasulullah ﷺ beramal saleh kurang lebih dua puluh tiga tahun selama menjadi nabi,
ditambah kebaikan-kebaikan yang dilakukan sebelum menjadi nabi. Meskipun seluruh macam amal saleh
yang ada di dalam Islam itu diamalkan oleh beliau, namun jumlahnya sangat sedikit karena waktu hidup
beliau yang sangat pendek. Dengan ketetapan adanya jariyah pahala maka Rasulullah ﷺ itu mendapatkan
pahala dari semua amal saleh yang dilakukan oleh siapapun. Mengapa demikian, itu karena Allah ﷻ
menurunkan ilmu (agama Islam) itu melalui Rasulullah ﷺ, dan beliau menyebarkannya. Tersebarlah Islam
itu hingga ke seluruh pelosok dunia.
Rasulullah ﷺ punya peran/andil pada semua amal saleh yang dikerjakan oleh seluruh manusia sampai
hari kiamat. Semua amal saleh itu sumber ilmunya adalah Rasulullah ﷺ. Kalau diibaratkan 'MLM' maka
beliau itu berada di puncak. Pahala akan terus mengalir kepada beliau setiap kali ada yang beramal
saleh. Jadi, jumlah pahala yang beliau dapatkan dari jariyah pahala, yaitu dari amal yang dilakukan
oleh seluruh umat beliau jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pahala yang diraih beliau
dengan amal sendiri. Hingga hari ini sudah berapa generasi umat Rasulullah ﷺ, berapa milyard orang
yang beramal saleh, mulai dari umat generasi pertama yaitu para sahabat hingga generasi manusia yang
hidup hari ini dan akan terus berlanjut hingga hari kiamat.
Demikian rupanya, Rasulullah ﷺ berhak atas jariyah pahala dari semua amal saleh yang dilakukan oleh
seluruh umatnya, karena beliau adalah sumber ilmu (ajaran Islam) dan menyebarkan ilmu. Ketetapan ini
(jariyah pahala) Allah berlakukan juga kepada semua orang yang terlibat, berperan, dan berkontribusi
dalam penyebaran ilmu (ajaran Islam). Semua yang berkontribusi akan mendapat jariyah pahala sesuai
dengan besaran kontribusinya. Seperti itulah yang disebut jariyah pahala. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.
Barangsiapa membuka jalan untuk mencari ilmu (urusn keilmuan), maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga baginya. H.R. Muslim, no. 4867
Kalau memperhatikan hadis ini, maka Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dimudahkan masuk surga.
Kemudian kalau mencermati apa yang dilakukan oleh para sahabat, pantaslah kalau mereka pun
dimudahkan dan semuanya masuk surga tanpa hisab. Semua sahabat mendukung dan menolong Rasulullah ﷺ
dalam melaksanakan tugas dari Allah ﷻ yaitu menyebarkan ilmu. Mereka berkontribusi besar dalam
penyebaran ilmu. Adapun bentuk dukungan dan kontribusi mereka beragam, ada yang terlibat langsung
dengan keilmuannya, ada pula yang tidak langsung. Pada dasarnya para sahabat itu memberikan diri,
harta, hidup, dan mati (nyawa) mereka untuk tersebarnya Islam. Maka apa yang berlaku kepada Nabi ﷺ
berlaku juga kepada para sahabat. Pantaslah kalau sahabat pun banyak mendapatkan jariyah pahala.
Rahmat Kedua, berupa Lailatul Qadar. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا أَوْ نُسِّيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوَتْرِ
Sungguh diperlihatkan kepadaku (dalam mimpi) tentang Lailatul Qadar namun aku lupa atau di buat lupa
tentang waktunya yang pasti. Namun carilah di sepuluh malam-malam akhir pada malam yang ganjil. H.R.
Albukhari, no. 1877
Benar Lailatul Qadar itu ada. Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk mencari dan mendapatkannya. Di dalam
Alquran, Allah ﷻ hanya menyebutkan secara garis besar, yaitu Lailatul Qadar itu sesuatu yang lebih
baik daripada seribu bulan.
لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٍ
"Lailatu Qadar (Malam kemuliaan) itu lebih baik daripada seribu bulan." Q.S. Al-Qadr (97) : Ayat 3
Seperti apa wujudnya Lailatul qadar yang diperintahkan oleh Nabi ﷺ agar dicari dan diraih? Kalau
mendapatkan Lailatul Qadar itu sebetulnya mendapatkan apa? Ternyata seribu bulan yang disebut pada
ayat di atas itu adalah isyarat dari Allah ﷻ bahwa umur umat Rasulullah ﷺ itu berkisar di angka
seribu bulan atau delapan puluh tiga tahun. Berapa banyak pahala yang bisa dikumpulkan dengan
beramal selama delapan puluh tiga tahun, itu pun kalau seluruh hidupnya hanya digunakan untuk
beramal saleh. Lailatul Qadar itu adalah hadiah berupa bonus besar pahala yang jumlahnya lebih
banyak juga lebih besar dari jumlah pahala yang bisa dikumpulkan seseorang seumur hidupnya.
Waktu pemberian bonusnya jelas yaitu pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan
Ramadhan.
Muncul pertanyaan, siapa yang pantas mendapatkan bonus pahala tersebut, apakah semua orang
mendapatkannya? Kalau dianalogikan dengan sebuah perusahaan, Lailatul Qadar iru ibarat hadiah bonus
uang atau lainnya bagi karyawannya. Karyawan seperti apa yang pantas diapresiasi dan diberi
penghargaan berupa bonus yang sangat besar, lebih besaf dari gaajinya selama setahun. Tentu karyawan
yang baik, rajin, berdedikasi tinggi, berkontribusi besar kepada kemajuan perusahaan dan lain-lain.
Tapi, semua atribut baik yang dimiliki karyawan tersebut bukan mendadak dimunculkan pada saat bulan
pembagian bonus, apalagi hanya pada hari pembagiannya. Semuanya harus melekat di dalam dirinya.
Karena ini adalah bonus tahunan, maka perusahaan pasti akan melihat track record dan menilai semua
karyawannya selama setahun penuh. Perusahaan pasti tidak mau memberi bonus kepada karyawan yang
mendadak rajin dan baik ketika mendekati waktu pembagiannya hanya untuk mendapatkannya.
Orang yang akan mendapatkan Lailatul Qadar itu adalah hamba Allah yang saleh, taat, ahli (rajin)
ibadah selama setahun, berarti dimulai dari bulan Syawal sampai bulan terdapatnya Lailatul Qadar;
Ramadhan. Jadi, Lailatul qadar itu adalah hadiah dari Allah ﷻ berupa bonus besar pahala sebagai
bentuk apresiasi dan penghargaan dari Allah ﷻ kepada hamba-Nya
yang saleh, di mana kesalehan itu
melekat pada dirinya sepanjang tahun, bukan kesolehan yang mendadak dimunculkan di bulan Ramadahan
karena tahu pada bulan tersebut Allah membagikan bonus besar. Kesolehan dadakan ini akan hilang
dengan mudah begitu waktu pembagian bonusnya lewat!
Nah, itulah wujud rahmat Allah yang memasukkan seseorang ke surga, yaitu jariyah pahala dan bonus
pahala.
Jadi, bagaimana bisa seseorang optimis masuk surga kalau hanya mengandalkan jumlah pahala dari amal
sendiri?! Nabi ﷺ saja tidak bisa, apalagi yang lain.
Yakinlah, tanpa memiliki jariyah pahala dan tidak mendapat Lailatul Qadar , seseorang itu pesimis
bisa masuk surga!!!
Rahmat dan ilmu milik Allah itu tanpa batas dan meliputi seluruh..
Read more..
Allah ﷻ menuangkan ilmu-Nya yang tanpa batas dalam Alquran. Ilmu Allah..
Read more..
Allah itu maha rahman maha rahim. Pemilik dan pemberi karunia, kenikmatan, dan ..
Read more..
Salah satu ciri kenabian Rasulullah adalah bisa menerangkan apa..
Read more..
Orang-orang kafir di zaman Rasulullah sering mengejek..
Read more..Rasulullah membangun, membentuk, dan mencetak manusia dari manusia-manusia..
Read more..(Hadits) Dari Anas Bin Malik radhiyallahu anhu..
Read more..