Artikel

Kita Menanam Allah Menumbuhkan

Penulis:

Ust. Fahmi Hadi Shalehuddin

21 Maret, 2025

Blog tailwind page

       Allah itu maha rahman maha rahim. Pemilik dan pemberi karunia, kenikmatan, dan kebahagiaan tanpa batas. Namun dibalik itu siksaan-Nya pun berat, kejam, dan sadis tanpa batas. Sekejam apapun selain Allah menyiksa, itu jauh lebih lebih rendah bahkan tidak ada artinya dibandingkan siksaan-Nya. Allah ﷻ berfirman:

فَيَوۡمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٞ

"Maka pada hari itu tidak ada siapapun yang menyiksa seperti siksaan-Nya." Q.S. Al-Fajr (89) : Ayat 25
Pada ayat berikut Allah menyebut keduanya keduanya sekaligus dalam satu kalimat. Allah ﷻ berfirman:

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ وَأَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

"Ketahuilah, bahwa Allah maha keras siksaan-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." Q.S. Al-Ma'idah (5): Ayat 98

        Allah pun sudah banyak memberi peringatan, ancaman, dan perintah agar manusia takut dengan siksaan-Nya. Di antaranya Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah, dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (oleh Allah)." Q.S. At-Tahrim (66) : Ayat 6

        Sungguh, hanya orang-orang yang dungu yang tidak takut siksaan Allah dan teramat dungu. Namun demikian, tidak sedikit orang yang takut bahkan ngeri dengan siksaan Allah, namun tidak tahu harus bagaimana untuk menghindarinya. Tidak tahu apa yang harus dilakukan.

        Untuk bisa selamat dari siksaan Allah itu tidak bisa dengan melakukan atau menjauhi sesuatu berdasarkan pikiran manusia. Tepatnya, bukan dengan cara mengerjakan sesuatu yang baik dan menjauhi sesuatu yang buruk, namun barometer baik atau buruknya itu pikiran manusia. Dan yang paling dungu adalah orang menetapkan baik dan buruk sendiri, berbuat mengikuti kemauan dan kesukaan dirinya, lalu berangan bahwa Allah akan membebaskannya dari siksaan dan memuliakannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ.

Orang yang dungu adalah orang yang mengikutkan dirinya kepada hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah." H.R. Ahmad, no. 16501
Maha benar Allah ﷻ yang telah berfirman

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ ۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآ ۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ ۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ

"Sungguh, Kami pastikan masuk Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah." Q.S. Al-A'raf (7) : Ayat 179
Binatang itu tahu apa yang bermanfaat dan bisa menyelamatkan dirinya dan apa yang bisa mencelakakannya. Manusia justru tidak demikian. Pantaslah Allah menyebut mereka lebih buruk dan sesat dari binatang.
Untuk bisa terhindar dan selamat dari siksa Allah, perhatikanlah firman Allah ﷻ berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٍ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٍ

"Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang maha pedih?"

تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ ۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

"(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan bersungguh-sungguh di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui,"

يَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ وَيُدۡخِلۡكُمۡ جَنَّٰتٍ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٍ ۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

"Niscaya Ia ampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam Surga Eden. Itulah kesuksesan yang agung," Q.S. Ash-Shaff (61) : Ayat 10-12

       Pada ayat di atas Allah menunjukkan dan menjelaskan cara agar bisa terbebas dari siksa Allah yang maha pedih. Sangat jelas, yaitu dengan cara beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan bersungguh-sungguh hidup di jalan Allah dengan diri (jiwa dan raga) juga harta. Artinya, diri dan harta itu adalah alat atau fasilitas untuk "berjual-beli" dengan Allah agar selamat dari siksaan-Nya yang maha pedih.

       Setiap amalan anggota badan (ibadah badaniyyah) dan harta yang dikeluarkan (ibadah maliyyah) untuk melaksanakan perintah, ketetapan, atau ketentuan dari Allah itu diibaratkan manusia menjual kepada Allah kemudian Allah membelinya. Jika tidak "dijual" kepada Allah maka diri dan hartanya itu hanya digunakan untuk kerusakan, kecelakaan, dan kebinasaan dirinya.

مَثَلُ مَا يُنفِقُونَ فِى هَـٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيحٍۢ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍۢ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ ۚ وَمَا ظَلَمَهُمُ ٱللَّهُ وَلَـٰكِنْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Perumpamaan harta yang mereka keluarkan di dalam kehidupan dunia ini (untuk urusan keduniaan), adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Q.S. Ali-Imran (3) : Ayat 117

Demikianlah Allah membuat sebuah ibarat, fasilitas yang seharusnya digunakan untuk ibadah malah digunakan untuk hal-hal kedunian, di mana hal-hal keduniaan itu bukan mengarah dan menuntun ke surga, tapi menjauhkan dari surga. Dan yang pasti jika bukan ke surga pasti ke neraka!!!
Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ.

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anh, dia berkata,"Rasulullah ﷺ bersabda,'Celakalah budak dinar, budak dirham.'" H.R. Albukhari, no. 5955
Celakalah orang yang menghambakan dirinya kepada harta dan menjadi budaknya. Ini merupakan sebuah ungkapan yang menggambarkan seseorang yang tidak menggunakan hartanya di jalan Allah dan pada sesuatu yang diridhai-Nya.

        Pada surat Ash-Shaf ayat 12 di atas Allah ﷻ menerangkan bahwa harga yang Ia berikan untuk orang yang "menjual" diri dan hartanya kepada Allah itu amat sangat tinggi bahkan tak ternilai oleh manusia. Bukan hanya satu harga yang Allah berikan tetapi tiga. Pertama, berupa ampunan bagi semua dosa, kedua, Allah memasukkannya ke surga, dan ketiga, diberi tempat tinggal yang baik di surga Eden.
Di dalam hadis berikut Rasulullah ﷺ memberikan salah satu ibarat tentang harta yang digunakan untuk ibadah. Harta yang dikeluarkan untuk shadaqah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: مَا مِنْ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ مِنْ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا طَيِّبًا وَلَا يَصْعَدُ السَّمَاءَ إِلَّا طَيِّبٌ إِلَّا وَهُوَ يَضَعُهَا فِي يَدِ الرَّحْمَنِ أَوْ فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ فَيُرَبِّيهَا لَهُ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيلَهُ حَتَّى إِنَّ التَّمْرَةَ لَتَكُونُ مِثْلَ الْجَبَلِ الْعَظِيمِ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anh, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,"Tidaklah seorang hamba yang beriman bershadaqah dengan satu shadaqah dari hasil usaha yang baik, -dan Allah tidak menerima kecuali yang baik serta tidak akan naik ke langit kecuali yang baik, kecuali Dia telah meletakkannya di tangan Ar Rahman atau di telapak tangan Ar Rahman, maka Allah akan memeliharanya sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak unta, sehingga sebutir kurma dapat menjadi banyak semisal gunung yang besar." H.R. Muttafaq alaih (Albukhari, no. 1321 & Muslim, no. 1684)

        Shadaqah seorang mukmin dari hasil kasab (usaha) yang baik, akan naik hingga sampai kepada Allah, dan Ia menerimanya dengan tangan kanan-Nya lalu memeliharanya hingga terus membesar dan banyak, ibarat dari satu butir kurma yang ditanamkan kemudian tumbuh dan berbuah banyak lalu ditanamkan lagi dan berbuah banyak lagi. Maka yang asalnya hanya sebutir kurma bisa menghasilkan kurma yang menggunung bahkan lebih besar dari sebuah gunung. Ini hanya dari satu shadaqah yang dilakukan. Demikianlah Rasulullah ﷺ memberikan gambaran tentang balasan yang Allah berikan atas shadaqah yang baik dari harta yang baik. Kita yang menanam Allah yang menumbuhkan sampai berbuah hingga menggunung.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ.

Rasulullah ﷺ bersabda,"Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang saleh." H.R. Ahmad, no. 17096

Baca Juga Artikel Lainnya

blogs tailwind section
27 Maret, 2025

...?! "Aku Pesimis Bisa Masuk Surga!!!"

Rahmat dan ilmu milik Allah itu tanpa batas dan meliputi seluruh..

Read more..
blogs tailwind section
22 Maret, 2025

Raib

Allah ﷻ menuangkan ilmu-Nya yang tanpa batas dalam Alquran. Ilmu Allah..

Read more..
blogs tailwind section
21 Maret, 2025

Kita Menanam Allah Menumbuhkan

Allah itu maha rahman maha rahim. Pemilik dan pemberi karunia, kenikmatan, dan ..

Read more..
blogs tailwind section
18 Maret, 2025

Ternyata... Busuk!

Salah satu ciri kenabian Rasulullah adalah bisa menerangkan apa..

Read more..
blogs tailwind section
16 Maret, 2025

..Maka Sirnalah Ilmu

Orang-orang kafir di zaman Rasulullah sering mengejek..

Read more..
blogs tailwind section
15 Maret, 2025

Maju ke Belakang

Islam telah terbukti berhasil membangun manusia..

Read more..
blogs tailwind section
11 Maret, 2025

Manusia Sampah.. !!!

Rasulullah membangun, membentuk, dan mencetak manusia dari manusia-manusia..

Read more..
blogs tailwind section
7 Maret, 2025

Hanya Hati yang Bersih yang Bisa Mewadahi Ilmu

(Hadits) Dari Anas Bin Malik radhiyallahu anhu..

Read more..