Penulis:
Ust. Fahmi Hadi Shalehuddin
18 Maret, 2025
Salah satu ciri kenabian Rasulullah ﷺ adalah bisa menerangkan apa yang akan terjadi terhadap umatnya dan umat manusia pada umumnya setelah beliau tidak ada (wafat). Beliau bukan mengira-ngira atau meramal, tapi berdasarkan wahyu dari Allah, sehingga pasti benar dan pasti terjadi. Contohnya, beliau menerangkan fitnah (kemunduran dan kerusakan) yang digambarkan seperti gelombang besar di lautan yang akan melanda kaum muslimin. Hal ini dikisahkan dalam hadis berikut.
عَنْ شَقِيقٍ سَمِعْتُ حُذَيْفَةَ يَقُولُ: بَيْنَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ عُمَرَ إِذْ قَالَ: أَيُّكُمْ يَحْفَظُ قَوْلَ النَّبِيِّ ﷺ فِي الْفِتْنَةِ؟ قَالَ: فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ. قَالَ: لَيْسَ عَنْ هَذَا أَسْأَلُكَ وَلَكِنْ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ! قَالَ: لَيْسَ عَلَيْكَ مِنْهَا بَأْسٌ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا. قَالَ عُمَرُ: أَيُكْسَرُ الْبَابُ أَمْ يُفْتَحُ؟ قَالَ: بَلْ يُكْسَرُ: قَالَ عُمَرُ: إِذًا لَا يُغْلَقَ أَبَدًا. قُلْتُ: أَجَلْ! قُلْنَا لِحُذَيْفَةَ: أَكَانَ عُمَرُ يَعْلَمُ الْبَابَ؟ قَالَ: نَعَمْ كَمَا يَعْلَمُ أَنَّ دُونَ غَدٍ لَيْلَةً. وَذَلِكَ أَنِّي حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ فَهِبْنَا أَنْ نَسْأَلَهُ مَنْ الْبَابُ فَأَمَرْنَا مَسْرُوقًا فَسَأَلَهُ فَقَالَ مَنْ الْبَابُ قَالَ عُمَرُ.
Dari Syaqiq, Aku mendengar Khudzaifah radhiyallahu anh menuturkan,"Ketika kami duduk-duduk bersama Umar radhiyallahu anh, saat itu ia mengajukan pertanyaan,'Siapa di antara kalian yang hafal sabda Nabi ﷺ tentang fitnah?' Kemudian Khudzaifah menjawab,'Fitnah (celakanya) seseorang (bisa) karena istri/keluarga, harta, anak atau tetangganya, namun itu bisa terhapus oleh shalat, shadaqah, dan amar ma'ruf nahyi mungkar.' Umar radhiyallahu anh berkata,'Bukan (fitnah) itu yang aku tanyakan kepadamu, akan tetapi (fitnah) yang datang bergelombang seperti gelombang lautan.' Khudzaifah berkata,"Engkau tidak akan terdampak dengan fitnah itu wahai amirul mukminin, sebab antara engkau dan fitnah itu terdapat pintu yang terkunci.' Umar bertanya,'Apakah pintunya didobrak atau dibuka biasa?' Khudzaifah menjawab,'Bahkan didobrak!' Maka Umar berkata,'Kalau begitu, tidak akan tertutup lagi selama-lamanya.' Aku menjawab,'Benar!' Aku (Syaqiq) bertanya kepada Khudzaifah,'Apakah Umar mengetahui pintu tersebut?' Khudzaifah menjawab,'Ya, sebagaimana ia mengetahui bahwa setelah siang ada malam, yang demikian itu karena aku menceritakan Hadits kepadanya dengan tanpa kekeliruan, maka kami khawatir untuk menanyakan kepada Umar siapa pintu itu sebenarnya.' lalu kami perintahkan kepada Masruq untuk bertanya kepada Khudzaifah (siapakah pintu itu), Khudzaifah menjawab,'Umar.' H.R. Muttafaq alaih (Albukhari, no. 3321 & Muslim, no. 5150)
Fitnah yang disebutkan oleh Umar bin Khaththab rhdhiyallahu anh seperti gelombang lautan itu adalah fitnah yang menimpa kaum muslimin. Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan di dalam kitab Fathul Baari bahwa fitnah tersebut adalah di mana kondisi manusia termasuk kaum muslimin sudah seperti binatang bahkan lebih buruk dan sesat , seperti yang Allah ﷻ firmankan di dalam ayat berikut.
وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ ۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآ ۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ ۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ
"Dan sungguh, Kami pastikan untuk (masuk) Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati (akal) tetapi tidak menggunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah,) memiliki mata tetapi tidak menggunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mempunyai telinga tetapi tidak menggunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang, bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lengah." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 179)
Sangat jelas, penyebab manusia menjadi (berlaku, berbuat, dan hidup) seperti binatang itu adalah karena mereka tidak menggunakan telinga, mata, dan akal untuk mempelajari, mendalami, dan memahami ayat-ayat Allah (ajaran Islam). Orang kafir sudah pasti demikian, mereka pasti tidak memahami dan mengamalkan ajaran Islam, akan tetapi Rasulullah ﷺ sudah menyabdakan bahwa fitnah tersebut menimpa kaum muslimin di mana pertahanan terakhirnya adalah Umar bin Khaththab radhiyallahu anh. Pada hadis di atas, Umar bin Khaththab menanyakan demikian itu karena ia khawatir jika fitnah tersebut terjadi di saat ia menjadi khalifah. Imam Albukhari memunculkan perihal fitnah yang seperti gelombang di lautan itu dalam satu bab yang diakhiri dengan hadis berikut.
عَنْ أُسَامَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: يُجَاءُ بِرَجُلٍ فَيُطْرَحُ فِي النَّارِ فَيَطْحَنُ فِيهَا كَطَحْنِ الْحِمَارِ بِرَحَاهُ فَيُطِيفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ أَلَسْتَ كُنْتَ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ إِنِّي كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا أَفْعَلُهُ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَأَفْعَلُهُ قَالَ شُعْبَةُ وَحَدَّثَنِي مَنْصُورٌ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أُسَامَةَ بِنَحْوٍ مِنْهُ إِلَّا أَنَّهُ زَادَ فِيهِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ
Dari Usamah radhiyallahu anhuma, ia berkata,"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,'(pada hari kiamat) Akan didatangkan seseorang, kemudian dia dilempar ke dalam neraka, lantas di sana ia berputar-putar sebagaimana keledai menarik alat penggilingan, maka penghuni neraka mengelilingi orang tersebut dan bertanya; 'Hai fulan, bukankah kamu dahulu pernah memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran? ' Ia menjawab; 'ya, saya dahulu memerintah kebaikan, namun aku tidak mengerjakannya, dan aku melarang kemungkaran, namun justru aku melakkannya.'" H.R. Ahmad, no. 20818 dan Albukhari, no. 6569
Pada riwayat Ahmad ada tambahan lafad فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ' (hingga ususnya terburai keluar). Maknanya, yang menjadi sumber masalah dari rusak dan hancurnya Islam dan kaum muslimin dengan sebab di atas itu adalah ustadz, kyai, dan lain sebagainya. Yaitu ustadz yang hanya menyampaikan dan menyuruh orang lain untuk melakukan suatu amal sementara dirinya tidak mengerjakannya, dan melarang orang lain melakukan sesuatu yang dilarang di dalam Islam, tapi dia sendiri melakukannya. Rusaknya umat ini oleh para ustadz yang agama itu hanya di mulut, menjadi Ustadz itu hanya ketika di atas mimbar atau ketika menyampaikan agama kepada orang lain. Adapun di luar itu mereka tidak mengamalkan agama Islam. Dengan demikian, maka yang dilakukannya bukan hal keagamaan, keakhiratan, atau amal saleh, tapi urusan keduniaan, bahkan agama Islam itu hanya dijadikan alat untuk meraih keduniaan. Mereka itu di antara yang menjual ayat-ayat Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَءَامِنُواْ بِمَآ أَنزَلۡتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمۡ وَلَا تَكُونُوٓاْ أَوَّلَ كَافِرِۢ بِهِۦ ۖ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِئَايَٰتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّٰيَ فَٱتَّقُونِ
"Dan berimanlah kamu kepada apa (Al-Qur'an) yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa (Taurat)
yang ada pada kamu dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama mengingkarinya. Janganlah kamu jual
ayat-ayat-Ku dengan harga murah dan bertakwalah hanya kepada-Ku." Q.S. Al-Baqarah (2): Ayat 41
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ
"Sangatlah besar kemurkaan di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." Q.S. Ash-Shaff (61) : Ayat 3
Merekalah yang disebut dengan Ulama Suu (ulama busuk),
Mereka tidak benar-benar bermaksud menegakkan
Islam, tidak ada keikhlasan di dalam hati mereka untuk hal itu. Orientasi dan tujuan, status dan
pengetahuannya sebagai ustadz hanya untuk meraih keduniaan, berupa harta dan jah (kemuliaan, gengsi,
prestise, kedudukan dan popularitas). Pastilah agama Islam ini rusak di tangan mereka. Pantaslah
mereka mendapatkan murka dan siksa yang besar di sisi Allah!
Yang lebih parah dari itu, hal tersebut bukan hanya bagi dirinya, ustadz atau kyai itu malah
mengarahkan atau mengajak umatnya kepada hal-hal keduniaan, bukanya mengarahkan dan menekankan untuk
taat dan beribadah untuk meraih surga. Imam Alghazali mengatakan:
فَسَادُ الْأُمَّةِ بِفَسَادِ الْأُمَرَاءِ وَفَسَادُ الْأُمَرَاءِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ وَفَسَادُ العُلَمَاءِ بِحُبِّهِمُ الْجَاهِ وَالْمَالِ.
Rusaknya umat ini karena rusaknya pemimpin, rusaknya pemimpin karena rusaknya ulama, dan rusaknya ulama karena kecintaan mereka kepada jah dan harta.
Rahmat dan ilmu milik Allah itu tanpa batas dan meliputi seluruh..
Read more..
Allah ﷻ menuangkan ilmu-Nya yang tanpa batas dalam Alquran. Ilmu Allah..
Read more..
Allah itu maha rahman maha rahim. Pemilik dan pemberi karunia, kenikmatan, dan ..
Read more..
Salah satu ciri kenabian Rasulullah adalah bisa menerangkan apa..
Read more..
Orang-orang kafir di zaman Rasulullah sering mengejek..
Read more..Rasulullah membangun, membentuk, dan mencetak manusia dari manusia-manusia..
Read more..(Hadits) Dari Anas Bin Malik radhiyallahu anhu..
Read more..